Tampilkan postingan dengan label Dunia WA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia WA. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2017

Kisah Martono dan Keluarganya

Saya mendapati BC ini di group Whatsapp, katanya kisah nyata, tapi tidak ada bukti yang mendukung kisah berikut bahwa benar.  Jika ada yang memiliki info akurat silahkan koreksi kebenarannya.

Berikut kisahnya

Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdo'a bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam.

Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang.

Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.

Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai Kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.

Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik.

Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).

Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya.

Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.

Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.

Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan.

Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.

Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja

Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak.

Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa. Pah hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.”

Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan.

Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.

Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”

“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.

“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.

Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung.

Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.

Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, bahwa setelah Adzan maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta.

Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup Adzan maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata,

“Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”

Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.

Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan.

Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.

Sepeninggal anaknya Rio, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil.

Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu,

”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah.

Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?”

“Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat.

Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp 17.850.000.

Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun.

Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.

Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan,

“Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdo'a saja.”

Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.

Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”.

Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya.

Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai.

Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.”

Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku.
Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.

Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.

Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.

“Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono.

“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.

Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam
Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan.

Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba Adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal.

Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba Adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung.

Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.

Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.

Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia.

Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.

Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu.

Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”

Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.

Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat.

Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.

Pak Martono SH beliau dulu waktu Dirut Telkom jaman nya Pak Cacuk, bertugas sbg Kasekper, Ka Inditor, Kadiv Properti.
Setelah kembali moslem Beliau mewakafkan 7 ha tanahnya untuk pesantren Baitul Hidayah di Bandung. *Subhanallah.*

*ALLAH MAHA PENYAYANG KEPADA HAMBA-NYA....*

( Dari Sahabat )

Pembaca boleh percaya dan juga boleh tidak percaya, karna di dunia online informasi semacam ini perlu di verifikasi kebenarnnya.

Kisah penaklukan konstantinopel dan pilkada jakarta

Ini adalah BC yang beredar di smartphone terkait pilkada jakarta.

Hari-hari terakhir menjelang hari H tanggal 15 Februari 2017 mengingatkan saya kembali akan kisah Al-Fatih Sultan Mehmed yang akhirnya bisa menembus benteng Konstantinopel (saat ini bernama Istanbul), benteng terbesar dan tersulit yang tidak dapat ditembus oleh musuh, baik oleh pasukan Muslim atau pasukan non Muslim. Benteng itu mempunyai tinggi 18 meter (tertinggi) yang terdiri dari 3 lapis tembok (di bagian darat) dan satu lapis tembok di bagian pesisir laut (dengan dijaga pasukan laut terbesar di zamannya).

Dalam berbagai versi kisah Sultan Mehmed, baik yang ditulis oleh cendekiawan Muslim atau orientalis, terdapat satu titik kesamaan, yaitu kemampuan manusia ada batasnya.

Dalam buku tulisan Roger Crowley diceritakan bagaimana pasukan Sultan Mehmed, mencoba menembus benteng dengan menggali terowongan dari luar dan langsung tembus di balik tembok. Namun ternyata benteng yang sudah berusia lebih dari 1000 tahun itu, dilengkapi oleh "sensor" yang dapat mengetahui pergerakan di bawah tanah. Satu hal yang luput dari perhatian Sultan Mehmed dan telik sandinya.

Sultan Mehmed juga telah membuat meriam terbesar di jamannya, dengan panjang 5,6 m, jari-jari meriam 70 cm dan sanggup menghancurkan benteng dari jarak 1,5 km. Rasanya tidak ada yang sanggup untuk menahannya meriam itu. Akan tetapi meriam itu punya kelemahan, yaitu re-load peluru meriam yang memerlukan waktu cukup lama, mencapai 3 jam. Ini yang menyebabkan pasukan Konstantinopel yang dipimpin oleh Glustiniani mempunyai waktu untuk menambal tembok yang sudah berlubang dengan tanah liat basah. Tanah liat ini yang kemudian mampu menahan gempuran Bassilica Canon raksasa tersebut.

Pasukan laut Sutan Mehmed pun tidak mampu menggempur pasukan laut Konstantinopel karena perahu tempur dan perusak yang mereka bawa hanya sepersepuluh besarnya dari pasukan musuh.

Tak berhasil dengan rencana yang sudah disiapkan tersebut membuat pasukan Sultan Mehmed dan pasukannya pun frustasi. Tidak ada jalan lain. Kemampuan militer mereka sudah mencapai limit, baik teknologi maupun spirit. Sampai kemudian muncul ide dari sultan untuk menggempur wilayah sempit yang dipintu masuknya dijaga oleh Golden Horn. 70 kapal perusak berhasil diangkut melewati bukit Galata yang dijaga oleh pasukan Konstantinopel dalam waktu semalam. Dengan kemiringan antara 25-30 derajat, kapal tersebut dapat diangkat dan dibawa masuk ke celah sempit.

Memang muncul kekhawatiran pada pasukan Konstantinopel, namun itu tidak berlangsung lama. Gempuran pasukan Sultan Mehmed tetap tidak mampu menggempur benteng yang luar biasa tersebut.

Ditambah lagi dengan informasi akan datang pasukan Hungaria yang bisa dikatakan manusia raksasa pada zamannya. FYI, pedang pasukan Hungaria kurang lebih 220 cm, dengan panjang pegangan pedangnya kurang lebih 50 cm; padahal pasukan Sultan Mehmed hanya menggunakan pedang sepanjang 150 sampai 170 cm.

Ini membuat kondisi psikis pasukan Sultan Mehmed dan Sultan Mehmed sendiri menjadi _down_, yang membuat beliau akhirnya menyendiri di dalam tendanya. Rasanya semua upaya maksimal sebagai seorang manusia sudah dikerahkan semua, tidak ada satu pun yang dapat dilakukan lagi. Tinggal satu yang tersisa, yaitu doa.

Berkumpullah beliau dan mengajak pasukannya berdoa dalam sholat Jumat terpanjang sepanjang masa, dari ujung golden horn di teluk marmara sampai ke depan pintu gerbang Konstantinopel.

itulah saat-saat kritis manusia yang sudah mengupayakan berbagai macam upaya yang bisa mereka lakukan. Tidak ada daya upaya lagi... selain berdoa... berdoa dan berdoa.

Dan Allah SWT mengabulkan doa dari pasukan Sultan Mehmed yang ikhlas mengorbankan dirinya.

Benteng Konstantinopel pertama kali bukan hancur di tempat terlemah. Benteng Kontantinopel bukan hancur oleh pasukan Yeniseri yang menggali terowongan di bawah benteng. Benteng Konstantinopel bukan hancur oleh Bassilica Cannon yang dbuat oleh Orban. Konstantinopel bukan pula hancur oleh pasukan laut yang berusaha menembus benteng satu lapis yang diperkirakan bakal mudah ditembus.

Tetapi Benteng Konstantinopel tembus pertama kali di daerah terkuat, di benteng dengan 3 lapis.

Allah SWT ternyata telah membuat pasukan Glustiniani di dekat istana Blachernae, tempat yang full power, menjadi seolah tidak sadar bahwa ada 30 pasukan Yeniseri yang berhasil memanjat tembok 3 lapis dengan tinggi 18 meter dan mengganti bendera di benteng itu dengan bendera Tauhid.

Bendera sudah berkibar di tempat tertinggi itu, dan membuat pasukan Sultan Mehmed menjadi bangkit dan bersemangat menghancurkan benteng. Itulah yang kemudian menjadi titik terlemah yang menyebabkan Glustiniani mencoba mengundurkan diri dari gelanggang yang tentu saja ditolak oleh Constantine.

Sedikit demi sedikit benteng yang lain pun ditaklukkan. Pasukan musuh makin melemah, rakyat Konstantinopel menjadi ketakutan dan berlari ke dalam rumah-rumah mereka.

Hari Senin malam semua benteng telah dikuasai dan Selasa pagi setelah subuh secara resmi Sultan Mehmed masuk ke Konstantinopel melalui pintu benteng yang pertama kali ditaklukan oleh pasukannya yang dipimpin oleh Hasan Ulubatli. Itulah puncak dari penaklukan benteng Konstantinopel (Istanbul).

Ada sebuah prasasti yang dipasang di pintu tersebut yang menandai masuknya sang Sultan muda tersebut.

Saat ini, rasanya kita berada dalam kondisi yang sama. Rasanya semua upaya sudah dilakukan untuk mencoba memenangkan.pertarungan. Mungkin ada yang belum optimal, sesuai keterbatasan kita sebagai seorang manusia.

Tetapi ada satu hal lagi yang perlu kita massifkan.. yaitu berdoa.. berdoa.. berdoa...
karena sesungguhnya kita tidak pernah bisa tahu doa yang mana yang dikabulkan oleh Allah SWT.

Kita juga tidak tahu cara mana yang akhirnya nanti memenangkan pertempuran ini...tgl 15.02.2017  (insya Alloh).

Kita juga tidak tahu doa orang ikhlas yang mana yang akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT. Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang ikhlas tersebut.
Mari sama-sama kita makin mendekatkan diri kepada Allah SWT, banyak mengingat Allah SWT, banyak tilawah dan tegakkan sholat malam.
Mari kita berdoa dengan sebaik-baik doa dan seikhlas-ikhlasnya.
Semoga Allah SWT mengijabah doa-doa kita...
Aamiin yaa robbal'aalamiin.

Mari kita ikhtiarkan untuk jakarta yang terbaik 5 tahun mendatang

Zeng Wei Jian, Ahok dan Urban Guerrilla: Menatap Masa Depan Jakarta


Ini adalah tulisan opini dari Dr. SYAHGANDA NAINGGOLAN, (Asian Institute for Information and Development Studies) Yang tersebar melalui jaringan whatsapp.

Silahkan di simak

Nama Zeng Wei Jan telah muncul dalam papan atas pertarungan wacana Ahok dan pembangunan Jakarta. Zeng dengan tulisan2 nya berhasil menjadi sumber inspirasi gerakan anti Ahok, yang terindikasi dari seringnya portal portal media anti Ahok merujuk pada tulisannya. Di sisi lain, kelompok pro Ahok telah menjadikan Zeng sebagai musuh dan mencaci maki dengan berbagai cara.

Ada 3 hal penting dari berbagai tulisan Zeng yang perlu diketengahkan sbb.:

Pertama, Zeng telah menulis dengan tajam bahwa Ahok adalah seorang diktator. Ketajaman ini diperlihatkan dengan pembahasannya yang dalam dengan fakta argumentatif seperti keinginan Ahok mengisi bensin di "water canon" untuk menghadapi demonstran. Sesuatu bentuk sadisme membungkam oposisi. Zheng, juga menunjukkan sikap sikap Ahok yang anti dialog dan barbar dalam setiap penggusuran. Dalam analisa ini, Ahok menurutnya masih Proto Diktator, yang bisa nantinya seperti Hitler, jika semakin banyak pendukung fanatiknya, cinta buta. Menjadi seperti Hitler, memanfaatkan jalan demokrasi untuk menjadi diktator besar.

Kedua, Zeng berhasil membongkar isu rasisme dalam kasus Ahok. Menurut Zeng, Ahok adalah pemimpin rasis itu sendiri, yang berlindung dibalik isu "minority complex". Untuk hal ini Zeng mencari istilah yang tepat, yakni "revert racism". Berbagai hambatan sosial yang diterima Ahok dalam menjalankan programnya dilapangan selalu diupayakan sebagai hambatan yang bersumber dirinya sebagai "orang cina".

Ketiga, Zeng telah memasukkan isu ideologis dalam dukungan terhadap Ahok dan cara Ahok menggusur. Isu ideologis itu adalah ungkapannya bahwa ada Serikat Taipan Rasis dibelakang Ahok. Dalam kaitan penggusuran, selain menunjukkan keterkaitan kepentingan bisnis properti para taipan, Zeng juga masuk dengan terminologi pembangunan tokoh2 kiri diberbagai penjuru dunia, yakni "Pembangunan bukan Penggusuran". Atau istilah alm. Adi Sasono, "Membangun tanpa Menggusur".

Di sini Zeng kental dengan nuansa ideologis. Berbeda dengan jejak tulisan Zeng dalam blog Andreas Harsono, 15 Juni 2009 terkait patung NAGA di Singkawang. Sebagai tangan kanan Andreas, tokoh Ham kaliber dunia, Zeng berusaha netral atas ketegangan sosial di Singkawang dalam kasus patung Naga tersebut.

Berbeda dengan 7 tahun yang lalu, Zeng jelas melakukan perlawanan tegas terhadap kapitalisme yang memangsa rakyat kecil.

Seberapa pentingkah pikiran pikiran Zeng ini bagi masa depan Jakarta?

Pertama, sebagai sosok orangnya sendiri, seorang Cina atau Tionghoa, Zeng jelas telah menghancurkan stereotip yang diciptakan Ahok, bahwa anti Ahok adalah ummat Islam. Atau Arab. Atau kelompok Prabowo dll. Memang bukan hanya Zeng dari warga Tionghoa berada di front depan anti Ahok. Ada Wawat Kurniawan dengan keahliannya dibidang IT dan Media, ada Liem Siok Lan alias Justiani ahli IT, alumni ITB dan Kanada, mantan advisor PM Thaksin, dan bersahabat dekat sebelumnya dengan keluarga Ahok, ada Lius Sungkharisma, tokoh pemuda Budha beberapa dekade lalu, ada Jaya Suprana, pendiri MURI, dll. Namun, Zeng sebagai jurnalis dan mantan aktifis HAM kaum minoritas, lebih artikulatif dalam menyampaikan kritikannya.

Kehadiran Zeng sedikitnya telah menghilangkan keraguan kelompok kelompok Anti Ahok melakukan aksi aksi radikal tanpa dihinggapi perasaan takut SARA atau rasis. Radikalisme ini pertama diorganisasikan AMJU (Aliansi Masyarakat Jakarta Utara) dengan gerakan "Ganyang Cina", melempar kepala Ahok ketika kunjungan kerja ke Jakarta Utara, Melumpuhkan KPK agar memproses kasus Rumah Sakit Sumber Waras , dll. ( Isu "Ganyang Cina" sendiri tidak berkembang, yang mungkin karena kehadiran Zeng, mewakili aktifis Tionghoa lainnya tadi, dengan penetrasi pikiran2 perjuangannya terhadap Ahok kepada semua elemen radikal.)

Tentu masalah radikal dan militansi disini tidak perlu membandingkannya dengan radikalisme FPI, yang sudah radikal sejak berdirinya. Atau Hizbut Thahir yang sejak awal sudah ideologis. Militansi dan radikalisme di sini muncul dalam sebab akibat anti Ahok itu sendiri.

AMJu kemudian berkembang. Kehadiran seniman Ahmad Dhani, yang masuk dalam Trio Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani dan Said Iqbal, mengembangkan AMJAS (Aliansi Masyarakat Jakarta Selatan). Selain di wilayah Utara dan Selatan, kelompok kelompok dalam skala kelurahan juga membangun ikatan perjuangan melawan Ahok. Belum terhitung forum rt rw se jakarta. Jaringan jaringan ini merupakan jaringan massa militan dan radikal yang sedang tumbuh subur.

Kedua, pikiran pikiran Zeng mempunyai kualitas substansi dan bahasa yang tinggi. Dalam "Membangun bukan Menggusur", pikiran Zeng setara dengan kuliah kuliah magister studi pembangunan atau sosial welfare studies. Ketajaman ini bak tinta ulama yang membakar spirit perjuangan anti Ahok.

Ketiga, kehadiran tulisan Zeng dengan mengetengahkan isu Syarikat Taipan Rasis sebagai tokoh-tokoh sentral dibelakang Ahok, Zeng menggeser isu 9 Naga yang sering didengungkan selama ini sebagai pendukung Ahok. Dan Zeng berusaha agar pertarungan terhadap Ahok bukan pertarungan ras. Sebab, kata Zeng, keuntungan bisnis properti bagi para Taipan tetap meninggalkan kisah kemiskinan yang sama bagi si Aheng si penjual mie.

Ahok dan Urban Guerrilla

Ahok telah di stempelkan sebagai pemimpin kafir. Puluhan ribu massa di Tugu Monas yang dikumpulkan Hizbut Tahrir dan KOBAR, elemen "Intifadah AMJU" telah mencap itu pagi tadi. Ini tentu merupakan sebuah cap yang lebih dalam, dibandingkan forum ulama2 Jakarta yang saat sebelumnya lebih banyak mencap di majlis majlis. Dalam teori aksi massa, sebuah gerakan itu mengalami ideologisasi bila dilakukan dengan aksi.

Pencapan ini tentu berjalan dalam arah yang berbeda dengan rencana demokrasi. Dalam demokrasi pertarungan perebutan kepemimpinan dilakukan dengan kontestasi dari calon2 yang dipilih partai pendukung.

Gerakan hari ini mungkin disebabkan situasi politik saat ini, di mana rakyat sangat percaya bahwa mengalahkan Ahok melalui demokrasi, hanya mungkin dengan penolakan Megawati terhadap Ahok. Namun, perkiraan "politik dagang sapi" telah kadung dipercaya rakyat bahwa Mega akan mendukung Ahok dengan barter Jokowi mendukung Budi Gunawan menjadi kepala BIN.

Harapan terhadap Megawati dan jalan demokrasi sudah terasa kandas. Maka, jalan satu satunya mungkin melalui konfrontasi.

Dalam perjuangan konfrontasi, gerakan gerakan anti Ahok yang radikal akan mengalami metamorfosa sesuai dengan situasi ke depan. Apakah Ahok akan kembali menjadi gubernur?

Skenario pertama adalah, Ahok jadi gubernur, luapan kebencian massa akan melumpuhkan Jakarta. Lumpuh dalam skala provinsi atau lumpuh dalam skala nasional. Hal ini tergantung konsolidasi berbagai kekuatan yang bersinergi, yang melihat Ahok sebagai persoalan lokal atau Ahok sebagai bagian agenda regional RRC. Kelompok yang terkahir ini, seperti letjen (p) Johannes Suryo Prabowo, melihat peristiwa Ahok dan proxy war dengan RRC adalah sebuah agenda yang berhimpitan.

Skenario kedua adalah Ahok menjadi gubernur, kelompok kelompok strategis melokalisir persoalan Ahok hanyalah masalah Jakarta. Jika hal ini terjadi,maka disinilah muncul gerilyawan kota (Urban Guerrilla). AMJu, Anjas, Kobar, forum RT RW, gerakan pribumi dll akan melanjutkan perjoangannya melawan Ahok dalam skala kota Jakarta. Namun, pencapan Kafir dan diktator, akan melahirkan perlawanan yang lebih keras dan anarkis. Sebuah gerilyawan kota seperti The Squad, IRA di Irlandia, atau Hamas di Palestina atau Hezbollah di Libanon. Atau lainnya. Jakarta akan menjadi kota yang lumpuh.

Jika skenario kedua ini terjadi, Zeng memberikan inspirasi yang besar dalam pertarungan skala kota ini. Sehingga masalah Ahok tidak menjalar menjadi masalah persaingan dan kebencian ras dalam skala bangsa, tapi fokus pada perjuangan melawan Ahok.

Cara mensholati Mayit Non muslim

Toleransi....Gak perlu Repot....hanya perlu kecerdasan... *MAYIT TIONGHOA*
Model pesantren

Suatu hari seorang warga tionghoa beragama non muslim sowan ke kediaman KH Musthofa Bisri (Gus Mus) Kiyai Karismatik sekaligus Budayawan asal Rembang Jawa Tengah.
Warga Tionghoa non muslim tadi masih tetangga sekaligus sahabat dekatnya Gus Mus.
Demikian kira2 dialognya :
Cina :
Pak Kiyai Ayah kami sore ini telah meninggal, naah td kami sekeluarga telah sepakat untuk meminta tolong pd pak Kiyai untuk mensholati jenazah ayah kami.

Gus Mus :
(tanpa pikir panjang langsung menjawab) ooo... Yooh menko tak mrono....!!!
Lantas Gus Mus memanggil santri santrinya n segera mendatangi rumah duka n mendekati jenazah.
Gus Mus :
Ayo segera kita sholat...!!!

Santri :
Sholat apa Pak Kiyai...????
Bukankah mensholati
Orang non muslim itu
Haram Pak Kiyai...???

Gus Mus :
Sholat ngasar to yooo...!!!

Santri :
He he... Lha itu Mayite bgm...???

Gus Mus :
Hallah.... Junjung pindahno ning mburi kono kan berresss...!!!

Santri :
Ooo Njih Kiyaii....

Selesai Sholat
Cina :
Pak Kiyaiii... Biasanya orang mensholati jenazah itu jenazahnya ditaruh di depan.... Lha ini kok ditaruh dibelakang...???

Gus Mus :
Yang ditaruh di depan itu yang sudah ngerti jalan...!!!
Lha karena ayahmu belum apal jalane maka tak taruh belakang ...!!!

Cina :
He he.... Oo gitu tooo... geh geh kiyai. Maturnuwun.

Kisah ini diceritakan oleh KH Shorofuddin santrinya Gus Mus.